Hukum bolehnya membaca surat yasin di hadapan mayit
- Dalam kitab musnad Ahmad Bin Hanbal, Tahqiq Syuaib al-Arnaut seorang ulama wahabi, jilid 28, halaman 171-172, hadis nomor 16969, terbitan muasasah al-Risalah, cetakan kedua tahun 2008M/1429H:
Telah menyampaikan
kepada kami abu al-mughirah, telah menyampaikan kepada kami shafwan telah
menyampaikan kepadaku para guru, bahwasanya mereka (para guru) menghadiri
Ghudaifah bin al-Harits al-Tsumali ketika fisiknya (Ghudaifah) telah melemah,
Ghudaifah berkata: “Apakah ada seseorang diantara kalian yang akan membacakan
surah yasin?”
Perawi berkata: lalu
shalil bin Syuraih al-Sakuni membacakannya. Tatkala sampai pada ayat ke-40,
ghudaifah bin al-Harits al-Tsumali pun wafat.”
Perawi berakata: “Beberapa
Syaikh (para guru) mereka berkata: “Apa bila surat yasin dibacakan dihadapan
mayit, maka akan diringankan atasnya dikarenakan surat tersebut.”
Shafwan berkata: “
Dan hal yang sama pun dilakukan oleh Isa bin Ma’mar dihadapan Ibn Ma’bad
(membacakan surat yasin)”
Syuaib Arnaut
berkata: “sanad riwayat ini hasan, dan muhbamnya (tidak jelasnya) siapa para
guru tidak berdampak pada perawi tersebut.”
Ibn Taimiyah Membolehkan Tahlilan
- Dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, karya Ibn Taimiyah yang bermazhab hanbali, jilid 12, halaman 399, terbitan Dar al-Hadis Kairo, cetakan tahun 2006M/1427H
Ibn Taimiyah berkata:
“telah sahih (riwayat) dari Nabi Saw, bahwa beliau memerintahkan bersedekah
untuk orang yang sudah mati, juga memerintahkan agar melaksanakan berpuasa
untuknya (untuk si mayit), maka sedekah atas nama mayit, termasuk amal shaleh,
sama halnya dengan yang tertera didalam sunnah tentang berpuasa atas nama
mereka.”
Dengan riwayat ini
dan selainnya, para ulama berhujjah membolehkan menghadiahkan pahala ibadah,
harta, dan badan kepada orang yang sudah mati dari kaum muslimin. Sebgaimana hal
ini merupakan mazhab Ahamad, Abu Hanifah dan sekelompok ulama maliki dan syafi’i….”
Ibn Taimiyah ditanya
tentang seseorang yang bertahlil (membaca Laa Ilaaha Illallah) sebanyak 70 ribu
kali, kemudian dia menghadiahkan pahala bacaannya itu kepada orang yang sudah
meninggal dunia, apakah dapat melepaskan mayit dari siksa nereka, apakah ini
termasuk hadis sahih atau tidak?
Dan jika seseorang
bertahlil lalu menghadiahkan nya kepada mayit, apakah pahalanya samapai kepada
si mayit atau tidak?
Ibn taimiyah
menjawab: “jika seseorang bertahlil seperti itu sebanyak 70 ribu kali, atau
kurang atau lebih dari itu, lalu dia hadiahkan pahalanya kepada mayit, maka
Allah akan menjadikan amalan tersebut bermanfaat (bagi si mayit), ini bukanlah
hadis sahih dan bukan pula dhaif. Wallahu a’lam
Sumber: Masalah Yang
Di Perselisihkan, halaman 10-11

Wah terimakasih gan penjelasannya, alhamdulillah akhirnya saya faham
ReplyDelete