Babul Ilmi

Gerbang Segala Ilmu

Thursday, October 4, 2018

Kecintaan Imam Syafi’I Kepada Sayidah Nafisah Khatun

| Thursday, October 4, 2018
Kubah sayyidah nafisah Khatun

Babulilmi.com - Sayidah Nafisah binti Hasan Bin Zaid Hasan bin Ali bin Abi Thalib [ra] adalah seorang ahli ibadah, zahidah, muhadis, saleh dan penghafal Al-quran. Dia  adalah istri Ishaq Mu’tamin bin Imam Jafar Shadiq as. Dia tinggal di kairo, ibu kota mesir, salah satu situs ziarah yang sangat dikenal di negeri  itu. Di sepanjang hidupnya, dia berhaji  sebanyak tiga puluh kali. Nafisah Khatun lahir di mekkah, 11 Rabiul Awal 145 H. pada 193 H, dia berhijrah ke mesir. Masyarakat Mesir yang menyambut gembira kedatangan perempuan mulia ini menyediakan tempat untuknya. Selama di mesir dia menyibukkan diri dengan mengajar al-Quran, fiqih, dan meriwayatkan hadis. Pada 208 H, dia jatuh sakit, pada malam jumat awal Ramdan  208 H, dia meninggal dunia.

Malam kelahiran sayidah nafisah diperingati oleh rakyat Mesir dan mereka berziarah ke makamnya. Berbagai kelompok dan mazhab Ahlulssunah dan Syiah mengadakan pembacaan sejarah  hidup (maulid) Ahlulbait dan perempuan mulia itu demi menyatakan kecintaan mereka.

makam Sayyidah Nafisah Khatun
makam Sayyidah Nafisah Khatun

Rakyat Mesir meyakini  bahwa mencium makam, bertawasul dengan sayidah nafisah guna mencapai hajat adalah hal yang baik. Demikian pula mengelilingkan mempelai di makam suci beliau adalah hal yang biasa dilakukan. Semerbak wewangian yang memenuhi ruangan makamnya mengharumkan para peziarah yang datang. Mereka mengusap dinding makam dengan tangan, baju, dan kain apapun ke makamnya, sambil berharap berkah dari permpuan saleh cucu Imam Hasan bin Ali bin Abi Thalib itu.

Muhammad bin idris al-Syafi’I, yang pada dekade ketiga dari usianya itu pergi dan tinggal di mesir, setiap kali menuju masjid Fusthath untuk mengajar, selalu mampir ke rumah sayidah Nafisah untuk mendapatkan hadis dan ilmu darinya. Selain itu, setiap kali jatuh sakit  syafi’I mengirim orang kepada sayidah nafisah untuk meminta doanya demi kesembuhan. Sebelum orang suruhannya itu kembali, berkat pengaruh doa Sayidah Nafisah, dia sudah sembuh dari sakitnya.

Hingga suatu hari, Imam Syafi’I jatuh sakit, dan sebagaimana biasanya dia mengutus seseorang kepada sayidah nafisah untuk meminta doa kesembuhan. Namun kali ini, Sayidah Nafisah menyampaikan hal yang lain, bahwa ajalnya sudah menjelang. Begitu sang utusan menyampaikan pesan tersebut, Imam Syafi’I meyakini bahwa ajalnya sudah dekat. untuk itu dia berwasiat agar Sayidah Nafisah Khatun turut melakukan salat jenazahnya. [1]

Imam Syafi’I meninggal dunia pada 204 H. sementara itu, kondisi  fisik Sayidah Nafisah lemah dikarenakan banyak beribadah dan berpuasa. Sehingga membuatnya tidak bisa keluar rumah. Tetapi, demi memenuhi wasiat Syafi’I, dia meminta penguasa Mesir saat itu agar meletakkan jenazah Imam Syafi’I di depan pintu rumahnya, dan dalam keadan bermakmum kepada Abu Ya’qub Buwaithi (salah seorang sahabat syafi’i), sayidah nafisah pun melakukan salat jenazah. [2]

Tawasul Imam Syafi’I kepada Sayidah Nafisah ini memberikan pelajaran sejarah di kalangan para para pengikutnya. Salah satu berkahnya ialah seperti yang dialami oleh Syablanji. Mukmin bin Hasan Syablanji al-Syafi’I menulis Nur Al-Abshar fi Aali Bait al-Nabi al-Mukhtar. Pada mukaddimahnya itu, ia mengungkapkan latar belakang menulis kitab tersebut.

Saat itu aku sakit mata. Lalu aku menemui Sayidah Nafisah untuk bertawasul dan bernazar, “jika aku sembuh dari penyakit ini, aku akan mengumpulkan ucapan-ucapan para ulama terkenal berkenaan manakib Ahlulbait Nabi saw.” Tak lama kemdian aku sembuh. Maka aku pun memutuskan untuk memenuhi janjiku, meskipun aku tidak merasa memiliki keahlian di bidang ini dn tidak punya bekal apapun. [3]

Semua uraian di atas menunjukan bahwa keberadaan perempuan agung tersebut di Mesir telah menebarkan kecintaan kepada Ahlulbait as. Tokoh-tokoh terkenal dan para pemimpin Ahlusunnah, seperti Imam Syafi’I san ulama lain, bertawasul dengan putri cucu Nabi Saw itu, serta mendapatkan hadis dan berbagai ilmu.

Catatn kaki

[1] Abu Ilm Taufiq, Sayidah Nafisah, hal.13, 95, 96
[2] Ibid; Khairuddin Zarkli, al-A’lam; Qamus Tarajim li Asyhar al-Rijal wa al-Nisa min al-Arab wa al-Musta’ribin wa al-Mutasyriqin, 8/44; Saleh Wardani, Syieh dar Meshr az Emam Ali ta Ashr-e Emam Khomeini, hal.119-120
[3] Mukmin Syablanji, Nur al-Ashbar fi Manaqib Aali Bait al-Nabi al-Mukhtar [saw], hal.9

Sumner: dikutip dari Manaqib Ali Bin Abi Thalib, Pandangan Ulama Syafi’iyah klasik dan modern, Ali Reza Azadi, hal.27-30

Related Posts

No comments:

Post a Comment