Babul Ilmi

Gerbang Segala Ilmu

Thursday, April 25, 2019

Dalil Tentang Dibolehkanya Tahlilan Dan Menghadiahkan Pahala Kepada Orang Yang Sudah Meninggal Dunia

| Thursday, April 25, 2019
Dalil Tentang Dibolehkanya Tahlilan

Hukum bolehnya membaca surat yasin di hadapan mayit


  • Dalam kitab musnad Ahmad Bin Hanbal, Tahqiq Syuaib al-Arnaut seorang ulama wahabi, jilid 28, halaman 171-172, hadis nomor 16969, terbitan muasasah al-Risalah, cetakan kedua tahun 2008M/1429H:


Telah menyampaikan kepada kami abu al-mughirah, telah menyampaikan kepada kami shafwan telah menyampaikan kepadaku para guru, bahwasanya mereka (para guru) menghadiri Ghudaifah bin al-Harits al-Tsumali ketika fisiknya (Ghudaifah) telah melemah, Ghudaifah berkata: “Apakah ada seseorang diantara kalian yang akan membacakan surah yasin?”

Perawi berkata: lalu shalil bin Syuraih al-Sakuni membacakannya. Tatkala sampai pada ayat ke-40, ghudaifah bin al-Harits al-Tsumali pun wafat.”

Perawi berakata: “Beberapa Syaikh (para guru) mereka berkata: “Apa bila surat yasin dibacakan dihadapan mayit, maka akan diringankan atasnya dikarenakan surat tersebut.”

Shafwan berkata: “ Dan hal yang sama pun dilakukan oleh Isa bin Ma’mar dihadapan Ibn Ma’bad (membacakan surat yasin)”

Syuaib Arnaut berkata: “sanad riwayat ini hasan, dan muhbamnya (tidak jelasnya) siapa para guru tidak berdampak pada perawi tersebut.”

Ibn Taimiyah Membolehkan Tahlilan


  • Dalam kitab Majmu’ al-Fatawa, karya Ibn Taimiyah yang bermazhab hanbali, jilid 12, halaman 399, terbitan Dar al-Hadis Kairo, cetakan tahun 2006M/1427H


Ibn Taimiyah berkata: “telah sahih (riwayat) dari Nabi Saw, bahwa beliau memerintahkan bersedekah untuk orang yang sudah mati, juga memerintahkan agar melaksanakan berpuasa untuknya (untuk si mayit), maka sedekah atas nama mayit, termasuk amal shaleh, sama halnya dengan yang tertera didalam sunnah tentang berpuasa atas nama mereka.”

Dengan riwayat ini dan selainnya, para ulama berhujjah membolehkan menghadiahkan pahala ibadah, harta, dan badan kepada orang yang sudah mati dari kaum muslimin. Sebgaimana hal ini merupakan mazhab Ahamad, Abu Hanifah dan sekelompok ulama maliki dan syafi’i….”

Ibn Taimiyah ditanya tentang seseorang yang bertahlil (membaca Laa Ilaaha Illallah) sebanyak 70 ribu kali, kemudian dia menghadiahkan pahala bacaannya itu kepada orang yang sudah meninggal dunia, apakah dapat melepaskan mayit dari siksa nereka, apakah ini termasuk hadis sahih atau tidak?

Dan jika seseorang bertahlil lalu menghadiahkan nya kepada mayit, apakah pahalanya samapai kepada si mayit atau tidak?

Ibn taimiyah menjawab: “jika seseorang bertahlil seperti itu sebanyak 70 ribu kali, atau kurang atau lebih dari itu, lalu dia hadiahkan pahalanya kepada mayit, maka Allah akan menjadikan amalan tersebut bermanfaat (bagi si mayit), ini bukanlah hadis sahih dan bukan pula dhaif. Wallahu a’lam

Sumber: Masalah Yang Di Perselisihkan, halaman 10-11



Related Posts

1 comment:

  1. Wah terimakasih gan penjelasannya, alhamdulillah akhirnya saya faham

    ReplyDelete