Babul Ilmi

Gerbang Segala Ilmu

Sunday, November 25, 2018

Berbuat Sopan Terhadap Rasulullah Saw

| Sunday, November 25, 2018
masjid madinah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ فَوْقَ صَوْتِ النَّبِيِّ وَلَا تَجْهَرُوا لَهُ بِالْقَوْلِ كَجَهْرِ بَعْضِكُمْ لِبَعْضٍ أَنْ تَحْبَطَ أَعْمَالُكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian meninggikan suara kalian lebih dari suara Nabi, dan janganlah kalian berkata kepadanya dengan suara yang keras, sebagaimana kerasnya suara (percakapan) di antarara sesama kalian, agar tidak hapus (pahala kebajikan) amal kalian, sedangkan kalian tidak menyadari. (QS. al-Hujurat: 2)

demikian tinggi dan agungnya junjungan kita Muhammad Rasulullah Saw dalam pandangan Allah Rabbul 'Alamin. tiap Nabi dan Rasul beroleh martabat dan kemuliaan dari Allah Swt menurut derajat atau peringkatnya masing-masing dan menurut keadaan ummat yang dihadapinya. hal itu sepenuhnya berada pada kehendak Allah. Yang kita ketahui dan jelas adalah, di antara semua Nabi dan Rasul tidak seorang pun yang beroleh kesempatan untuk menuntaskan tugas Risalahnya, kecuali junjungan kita Nabi terakhir sayyidina Muhammad Rasulullah Saw. hal ini dibuktikan oleh firman Allah di dalam al-Quran yang artinya: "pada hari ini telah Ku sempurnakan agama kalian (Islam) bagi kalian (ummat manusia) dan telah Ku lengkapkan ni'mat karunia Ku atas kalian dan Aku pun telah ridho islam menjadi agama kalian" (QS. al-Maidah: 3)

seizin Allah beliau telah berjasa kepada ummat manusia, terutama di bidang pemikiran. Membetulkan fikiran yang salah, meluruskan fikiran yang bengkok, mengubah kepercayaan dan keyakinan serta adat kebiasaan beratus-ratus ribu atau berjuta-juta ummat manusia dalam waktu hanya 23 tahun, jauh lebih sukar daripada memindahkan beratus-ratus gunung dari satu negeri ke negeri yang lain. Jika bukan karena kehendak Allah Swt, tugas seberat itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh Muhammad Saw sebagai manusia, betapa pun keinginan jenialitasnya (tingkat kecerdasan akalnya).


Oleh karena itu layaklah jika beliau oleh Alllah Swt disebut "Habibullah" (kesayangan Allah). nama beliau dalam syhadat disebut dalam satu tarikan nafas dengan Asma Allah. taat kepadanya berarti taat kepada Allah, mencintainya sama artinya dengan mencintqai Allah, durhaka kepadanya berarti durhaka kepada Allah. Iman kepada Allah tanpa Iman kepadanya tidak artinya, demikian pula sebaliknya. Begitulah seterusnya hingga tak ada penyekat yang memisahkan hubungan antara Allah dan Rasul Nya. Semuanya itu ditegaskan Allah Swt dalam al-Quranul Karim. Beberapa kenyataan itu saja tidak cukup membuktikan betapa tinggi dan mulianya martabat junjungan kita Nabi Besar Muhammad Saw dalam pandangan Allah. Tidaklah mengherankan jika Allah Swt melarang ummat beriman mengeraskan suaranya melebihi suara Rasulullah Saw di dalam percakapan. Memang tidak pada tempatnya jika orang beriman memperlakukan beliau tanpa sopan santun dan tidak mengindahkan tatakrama.

Rasulullah Saw sendiri adalah seorang yang berperangai lembut, berbudi luhur, berakhlak mulia dan manis budi bahasanya. Bagaimanakah kiranya jika beliau mendengar orang beriman berkata kepadanya denga suara yang memekakkan telinga? sekurang-kurangnya beliau tentu merasa terganggu. Lagi pula sikap dan kebiasaan demikian itu bukan sifat dan kebiasaan orang beriman. sikap dan kebiasaan seperti itu hanya ada pada orang-orang prmitif yang belum beradab atau pada orang-orang yang masih sangat terbelakang alam fikirannya.

Sungguh menyakitkan hati jika ada orang yang sudah beriman kepada Allah dan Rasul Nya, tetapi ia masih belum dapat mengubah sikap mentalnya sebagaimana yang dikehendaki oleh ajaran Allah dan Rasul Nya.

Maha Benar Allah yang telah menegaskan peringatan Nya, bahwa sikap seperti itu terhdapat Rasul Nya dapat menghilangkan pahala amal kebajikan. Dalam pergaulan sehari-hari saja kita dapat menyaksikan orang-orang yang suara pembicaraannya memekakkan telinga, ia akan kehilangan harga dirinya di mata orang banyak. Janganlah mengharap penghormatan dari masyarakat, tidak dicemohkan saja ia sudah beruntung! Harga dirinya merosot dan kehormatannya pun lenyap.

sumber: Keagungan Sayyidina Muhammad, hal.51-53

Related Posts

No comments:

Post a Comment