Babul Ilmi

Gerbang Segala Ilmu

Thursday, January 10, 2019

Telitilah Dalam Memilih Istri

| Thursday, January 10, 2019
Telitilah Dalam Memilih Istri


Perkawinan adalah masalah yang penting dan amat menentukan. Harmonis atau tidaknya perkawinan akan berpengaruh pada kehidupan yang akan datang. Perkawinan yang harmonis akan memberikan kesenangan dan ketentraman dalam kehidupan dan menjadi lahan bagi  tumbuhnya mental yang agung dan cemerlang. Sebaliknya, perkawinan yang tidak harmonis akan menyebabkan keputusasaam dan menghalangi tumbuhnya mental yang sempurna.

Problema ini tidak bisa dipecahkan dengan talak dan pereceraian, karena ia merupakan masalah rumit yang disertai dengan puluhan problema lainnya. Karena itu, para pemuda hendaknya teliti sebelum menikah, dan berusaha mendapatkan istri yang salih dan serasi.

Ada beberapa hadis yang mengisyaratkan masalah ini antara lain adalah hadis dibawh ini:
Abu Abdillah, Sayyidina Ja’far Bin Muhamad Ash-Shadiq berkata “Sesungguhnya wanita bagaikan seuntai kalung, maka lihatlah kalung itu sebelum digunakan. Wanita yang baik maupun yang jahat tak dapat dibandingkan dengan barang. Wanita yang baik tak dapat dibandingkan dengan emas dan perak; sesungguhnya ia lebih baik daripada emas dan perak. Begitu pula, wanita yang jahat tak dapat dibandingkan dengan  tanah; sesungguhnya tanah lebih baik darinya.” (Wasa’il, XIV, hal.17)

Ibrahim al-Kurkhi berkata, aku berkata kepada Abu Abdillah, “Istriku telah meninggal, dan ia serasi denganku. Kini aku ingin kawin lagi”

Beliau berkata kepadaku “Lihatlah dimana kamu akan menempatkan dirimu dan perhatikanlah wanita yang akan menggunakan hartamu dan mengenal agama dan rahasiamu.” (Ibid, hal.14)

Sayyidina Ali Bin Musa al-Ridha berekata “Milik seorang pria yang paling berharga adalah istri yang salih, yang membahagiakan suaminya bila si suami melihatnya, dan melindungi kehormatan dirinya dan harta suaminya ketika si suami sedang pergi.” (Ibid, hal.22)

Dalam salah satu hadis NAbi (Saw) beliau bersabda : “Aku berlindung kepada Mu (Ya Allah) dari seorang istri yang membuat aku berubah lebih cepat dari waktunya yang sebenarnya.” (Ibid.)

Memang, memilih istri atau jodoh bukanlah seperti membeli pakaian, karena istri merupakan teman pendamping sepanjang hayat. Kepadanyalah kita akan membuka rahasia kita. Kareana itu, janganlah kita tergesa-gesa, tanpa melakukan penelitian yang cukup, sehingga akhirnya kita menyesal dan menderita sepanjang hayat.”
Perhatikanlah surat sseorang wanita berikut ini:

“Belum satu tahun perkawinanku berlangsung dengan seorang pemuda yang belum aku kenal sebelumnya. Sebelum perkawinan berlangsung. Dia datang kerumahku dua kali. Aku pun malu meneliti keadaannya sebagai suamiku dii masa yang akan datang, dan apakah aku mencintainya atau tidak. Aku mengira, cinta akan terjalin dan bersemi di hatiku pada saat akad nikah diucapkan. Namun, ketika akad nikah sudah dilakukan dan ia kemudian mendatangiku, aku tetap tidak memiliki rasa cinta sama sekali terhadapnya.
Aku kemudian memberitahukan hal itu kepada keluargaku, tetapi aku menghadapi tantangan keras dari mereka. Mereka berkata, ‘nanti kamu akan mencintainya juga.’ Namun, sekarang perkawinan ku telah lewat datu tahun, dan aku bukan hanya tidak mencintainya tetapi bahkan tidak tahan lagi melihatnya. Suamiku juga mengetahui bahwa aku tidak mencintainya. Tetapi ia berkata, ‘Aku mencintaimu. Aku tidak membutuhkan cintamu padaku, dan aku tidak akan menceraikanmu.’

Sungguh rasanya aku ingin mati. Beberapa kali aku ingin bunuh diri, tetapi aku takut kepada Allah. Aku pun terasa hidup di dalam neraka jahannam.. aku terasa terbakar. Tetapi aku terus bersabar, sambil tidak mengetahui apa yang harus aku perbuat. Karena itu, aku ingin mengatakan kepada kaum lelaki, ‘janganlah kalian hanya memikirkan diri sendiri.’

Aku bodoh, mengapa aku harus mengucapkan akad nikah sebelum melakukan penelitian yang cukup. Tetapi, kadang-kadang manusia memang berbuat kesalahan dan melakukan sesuatu yang masih diragukan, dan baru menyadari kesalahannya beberapa waktu kemudian. Kehidupan tidak berlangsung sehari atau dua hari saja, tetapi panjang masanya. Karena itu, hendaknya pasangan suami istri hidup dengan saling mencintai dan menghormati. Ketika satu pihak tidak mencintai, pihak lain janganlah memaksa, karena hal itu akan membahayakan kedua-duanya,” (Ikhtiar az-Zauj)

Seorang tentara dari daerah Syalma’ah menulis:

“Anjurkanlah para pemuda agar memilih istri dengan teliti dan pengetahuan yang selengkap-lengkapnya, agar mereka lebih mudah mendapatkan kehidupan yang baik dan dapat menjalin kerja sama dan cinta kasih antara keduanya. Dengan begitu, mereka dapat membuat anak-anak yang salih dan bermanfaat bagi masyarakat, karena masyarakat kita membutuhkan pemuda yang salih dan terhormat. Hendaklah perkawinan mereka tidak atas dasar cinta dan kasih sayang dari satu pihak saja, karena akibatnya akan tidak baik. Disamping itu, hendaknya perkawinan itu didasari oleh nilai-nilai islam.” (Ibid.)

Semoga bermanfaat.

Related Posts

No comments:

Post a Comment