![]() |
| sumber gambar : thayyiba.com |
Bagi anak, rumah bagaikan sebuah sarang. Ia sangat terikat dan terhubung kepadanya. Apabila orang tuanya bersikap ramah, ia akan betah di sarangnya. Dalam rumah seperti ini, anak akan merasa puas dan aman. Mengasuh dalam suasana menyenangkan seperti ini menjadikan kualitas dan kapabilitas laten anak mampu menemukan ekspresinya, dan akan memberikan hasil yang baik.
Namun, bila orang tua selalu bertengkar, maka anak akan
kehilangan ketenangan dan kepuasan, sehingga tak merasa nyaman dan tenteram.
Orang tua yang selalu berselisih dan bertengkar pada dasarnya tak mau memahami
perasaan anak mereka.
Dalam situasi seperti ini, anak menjadi ketakutan, dan
dengan hati luka akan mencari sudut ruangan untuk menyembunyikan diri dan
bertanya-tanya mengapa orang tua mereka berperilaku seperti itu. Atau, akan
mencari kesempatan untuk melarikan diri dari rumah dan mencari perlindungan di
jalanan dan pasar-pasar.
Kenangan terpahit seorang anak adalah ketika orang tuanya
bersitegang dan bertengkar. Anak-anak tak mampu melupakan kenangan tersebut
sepanjang hidupnya. Kejadian itu akan terus tergores dalam dirinya dan
mengganggu karakternya.
Padahal sebagian anak-anak tersebut ada yang berhati lemah
dan terhambat pertumbuhan fisiknya. Mereka akan patah hati, dan menghabiskan
hidupnya secara menyedihkan. Sangat mungkin anak perempuan dari orang tua
semacam ini akan memiliki kesan bahwa semua laki-laki itu sekeras dan sekasar
ayahnya.
Akhirnya orang enggan menikahi dirinya. Mungkin juga terjadi
bahwa anak-laki-laki dari rumah semacam itu akan berpikir bahwa semua wanita
berperilaku seburuk ibunya, dan memutuskan untuk membujang seumur hidup.
Dalam lingkungan seperti itu anak menjadi suka memberontak
dan mulai membenci orang tuanya; bahkan beberapa anak menjadi pendendam. Data
statistik menunjukkan bahwa banyak sekali anak-anak yang doyan keluyuran, minum
minuman keras, dan bermasalah di tengah masyarakat adalah diakibatkan suasana buruk
di rumahnya.
Jika seseorang mengingat kejadian pahit di masa kecilnya,
yakni saat-saat di mana orang tuanya selalu bertengkar, ia akan merasa bahwa
meskipun kejadian itu telah lama sekali berlalu, namun kenangan tak sedap itu
masih tersimpan di benaknya.
Seorang pakar menyatakan:
"Orang tua mesti mengetahui bahwa ketika terjadi
perselisihan atau pertengkaran di antara mereka, hal itu akan menganggu pikiran
anak. Hubungan yang ada pada orang tua akan berpengaruh pada perkembangan anak.
Jika suasana damai tak terdapat dalam rumah, maka tak mungkin memberikan
pengasuhan yang layak bagi anak.
Ketika orang tua bersitegang, mereka lalai bahwa perbuatan
itu berpengaruh pada anak yang mesti mereka asuh. Dalam situasi semacam ini,
anak tak memperoleh pelajaran yang baik. Sehingga ia pun menjadi seorang
penyendiri dan bertabiat buruk.
Khususnya anak-anak usia remaja, yang akan mendapati situasi
yang amat sulit. Hati mereka terluka oleh sikap ayah mereka. Mereka tak mampu
memutuskan kepada siapa mereka harus berpihak. Dalam beberapa kasus, mereka
menjadi antagonis pada kedua orang tuanya."
Seseorang menulis dalam suratnya:
"Dari sekian kejadian tak menyenangkan di masa kecilku,
yang begitu lekat dalam pikiranku, adalah kondisi orang tuaku yang biasa
bertengkar dan saling menghina. Dalam kejadian itu, kakak perempuanku, kakak
lelakiku, dan aku sendiri langsung berdiri gemetaran di sudut ruangan. Selama
pertengkaran itu, kami hanya bisa memandang tanpa daya.
Aku teringat kakak perempuanku biasa menangis saat kejadian
itu, padahal kejadian buruk itu berlangsung lama. Akhirnya kini ia menderita
gangguan jiwa. Terlihat bahwa pertengkaran orang tua kami menimbulkan pengaruh
sangat buruk pada jiwa kakak perempuanku itu."
Seorang lainnya menulis:
"Kenangan tak menyenangkan di masa kecilku tetap tak
mau pergi dari ingatanku. Ayahku memiliki perilaku yang buruk dan egois. Ia biasa
mencari-cari alasan untuk membuat pertengkaran dalam rumah dan berteriak-teriak
pada semua orang. Orang tua kami biasa bertengkar sepanjang hari. Aku heran,
mereka tak pernah lelah melakukannya.
Padahal pertengkaran itu kerap disebabkan hal-hal sepele.
Tak ada malam tanpa tangis ketika aku pergi tidur. Itulah mengapa jiwaku begitu
rapuh. Aku seorang penakut dan selalu dihantui mimpi buruk. Aku telah
berkonsultasi pada beberapa dokter, yang (semuanya) menyatakan bahwa keadaanku
diakibatkan suasana rumahku. Ia berkata bahwa tak ada obat untuk itu, kecuali
beristirahat dan memperoleh suasana damai di rumah.
Hari bahagiaku datang, saat aku menikah dan meninggalkan
rumah. Sekarang, meskipun hidupku tenang, namun aku tetap merasa bahwa aku
seorang yang kalah dan tak dapat memperoleh kemajuan dalam hidup. Aku mohon
pada para orang tua, demi Allah, jika kalian berselisih, janganlah di hadapan
anak-anak kalian!"
Ia juga menuliskan dalam suratnya:
"Peristiwa terburuk dalam hidupku terjadi ketika aku
berumur delapan tahun. Saat itu orang tuaku bertengkar hebat. Semua anak
berlari ke pojok ruangan.
Peristiwa itu berpengaruh buruk pada jiwaku, yang tak dapat
kuhapus dari pikiranku untuk waktu yang lama. Aku muak dengan keluargaku dan
diriku sendiri.
Aku kerap berpikir bahwa semestinya aku tak pulang ke rumah
sepulang dari sekolah. Aku selalu berdoa kepada Tuhan agar aku mati saja
melalui sakit yang parah. Bahkan beberapa kali aku berpikir untuk bunuh diri.
Beberapa kali aku bermimpi bahwa aku menikah dan bertengkar dengan istriku.
Dalam mimpi itu, aku menyusun rencana untuk mempertahankan hakku.
Setelah menikah, aku mencoba beberapa kali memancing
pertengkaran dengan istriku, sekedar untuk menunjukkan bahwa aku seorang
pemarah. Untunglah istriku bertabiat tenang. Ia memperlakukanku dengan penuh
cinta dan kasih sayang, serta meyakinkan aku dengan argumen dan nasihat yang
baik. Aku beruntung karena perilaku buruk itu tidak berlangsung lama dalam
diriku.
Ketika aku mengingat kembali kesalahan orang tuaku, aku pun
berintrospeksi pada kegagalan diriku dan mencoba dengan gigih memperbaiki
watakku. Sekarang aku memperoleh kehidupan yang damai."
Seorang laki-laki menulis:
"Ketika aku berumur sembilan tahun, orang tuaku
bercerai disebabkan perselisihan yang tajam. Mereka meninggalkanku, sementara
kakak lelaki dan perempuanku dirawat oleh kakekku dari pihak ayah. Kami sering
sekali menangis saat itu.
Ketika mengunjungi ibuku, aku kerap bermimpi dalam tidurku
bahwa aku tak akan pergi ke rumah ayahku. Setelah beberapa waktu, beberapa
keluarga turut ambil bagian dan berhasil merujukkan kedua orang tuaku. Ibuku
kembali ke rumah kami.
Tetapi dalam masa perpisahan singkat itu, jiwaku begitu
terpengaruh dan hingga saat ini aku masih merasa sedih karenanya. Sekarang aku
berupaya keras, kapan saja aku bertengkar dengan istriku, kami tak
memperlihatkannya di hadapan anak-anak kami."
Surat lainnya menyatakan:
"Banyak kenangan pahit di masa kecilku dan sedikit
sekali kenangan yang indah. Ketika mengingat harihari itu, aku menjadi sedih
dan tak dapat menahan air mataku. Alasan kesedihanku itu adalah karena aku
selalu mendapati orang tuaku berselisih dan bertengkar.
Mereka menjadikan hidup ini sulit bagi kami bersaudara
(lelaki dan perempuan). Kami terdiri dari delapan bersaudara. (Syukurlah), aku
tak pernah bertengkar dengan suamiku, sehingga aku tak menciptakan kegetiran
bagi suami dan anak-anakku."
Dalam surat lainnya, seseorang menulis:
"Usia lima tahun adalah masa terbaik bagi anak. Ketika
aku berusia lima tahun terjadi perselisihan pahit di antara kedua orang tuaku.
Ayahku membawa istri keduanya. Karena perselisihan itu, ibuku meminta cerai
dari ayahku. Kami terdiri dari enam bersaudara, lelaki dan perempuan. Hari yang
sangat pahit bagi kami.
Ketika itu, aku sedang bermain dengan salah seorang saudara
lelakiku saat ibuku mengucapkan selamat tinggal kepada kami. Hanya Tuhan yang
tahu, betapa sedihnya kami saat itu. Ibu kami pergi, sementara kami tinggal
bersama ayah dan ibu tiri kami. Kami tetap berpisah dengan ibu selama dua
tahun, dan menahan rasa sakit akibat kelalaian ayah kami.
Suatu hari, ibu kami datang, lalu membawaku dan salah
seorang saudara lelakiku. Ia memiliki sedikit warisan dari ibunya. Dengan
warisan tersebut, ia mampu merawat kami. Setelah itu, saudara-saudaraku yang
lain juga bergabung bersama kami. Ibu kami pun berperan sebagai ibu sekaligus
ayah. Kami tak dapat melupakan keberanian dan pengorbanannya."
Seorang wanita lainnya menulis:
"Orang tuaku kerap bertengkar dan membuat kekacauan di
rumah kami. Ibuku pun sering marah. Aku berusia delapan tahun, ketika ia sering
pergi dan meninggalkan adik-adikku bersamaku. Sementara adikadikku (lelaki dan
perempuan) saat itu berusia dua, empat, dan enam tahun. Aku pun merawat mereka
semampuku.
Terkadang aku juga memperoleh pukulan dari ayahku. Meskipun
dengan kesulitan tersebut, aku mencoba untuk terus melanjutkan sekolahku,
tetapi gagal di kelas dua. Guru-guruku mengetahui kesulitanku. Mereka menaruh
iba kepadaku dan membantu nilaiku.
Dalam kondisi seperti itu, akhirnya aku dapat meneruskan ke
jenjang SMA. Sekarang aku telah menjadi seorang ibu. Aku sungguh-sungguh
berupaya agar perselisihan tidak menjangkiti diriku dan keluargaku."
Orang tua yang bertanggung jawab dan memiliki keinginan
untuk mengasuh anak mereka dengan baik akan menghindari perselisihan dan
pertengkaran dalam keluarga, (minimal) menghindari perselisihan di hadapan anak
mereka. Tak ada tindakan yang lebih buruk dari orang tua yang mengganggu anak
mereka dengan mempertontonkan pertengkaran mereka di hadapannya dan
mengabaikannya.
Seandainya mereka menyadari perasaan anak saat itu, niscaya
mereka tak akan pernah mencoba bertengkar lagi. Kejadian tersebut pasti akan terus
terkenang dalam kehidupan seseorang. Namun demikian, hampir tak ada keluarga
yang tak memiliki perbedaan pendapat.
Tetapi dalam kehidupan rumah tangga selalu diperlukan adanya
pendekatan. Pasangan yang bijaksana dan terbuka akan memecahkan perselisihan
mereka melalui diskusi yang tenang dan bersahaja.
Bila anak-anak melihat perselisihan orang tua, maka orang
tua mesti bersikap bijaksana dan meyakinkan mereka bahwa masalah tersebut dapat
diatasi dan tak perlu khawatir. Orang tua mesti memperhatikan bahwa mereka
jangan sampai menyebut perceraian di mana anak dapat mendengarnya. Ini tidak
hanya akan mempengaruhi perkawinan mereka, tetapi juga akan merusak pikiran
anak.
Perceraian antara suami dan istri adalah ketidakadilan bagi
anak. Anak akan merasa bahwa rumahnya telah hancur, dan hidupnya telah runtuh.
Ini wajar, karena anak mencintai kedua orang tuanya dan mereka tak dapat
membayangkan bahwa salah seorang dari mereka pergi meninggalkannya.
Bila anak tinggal bersama ayahnya setelah perceraian dan
ayahnya menikah lagi, maka ia akan sulit menerima kehadiran seorang ibu tiri.
Betapa pun baik dan perhatiannya ibu tirinya, namun ia tetap tak dapat
menggantikan tempat ibu kandungnya.
Pandangan umum menyatakan bahwa ibu tiri tak dapat merawat
dengan baik anak tirinya. Koran-koran banyak menuliskan kisah perawatan buruk
anak oleh ibu tirinya. Namun demikian, bila anak tinggal bersama ibunya
(setelah perceraian), ia pun merasakan kekosongan karena ketiadaan ayah
bersamanya.
Bila orang tua tak memikirkan hal ini sehingga mereka
meninggalkan anaknya dalam perawatan orang tua tiri, maka itu akan sangat
menyedihkan hati anak-anak yang masih belia.
Alhasil, pasangan suami istri tak dapat sebebas sebelumnya
ketika telah memiliki buah hati. Sebab, tanggung jawab mereka sudah bertambah;
dan inilah saatnya bagi mereka untuk berupaya keras menghindari
perselisihan.
Mereka harus menjaga suasana tenteram dalam rumah, dan
jangan membuat anak-anak mereka menjadi khawatir. Jika tidak, mereka akan dimintai
pertanggungjawaban kelak di pengadilan Allah.
Sumber: Ibrahim Amini anakmu amanat Nya

Memang kita dianjurkan untuk menjauhkan diri dari perselihan, karena perselisihan hanya akan mendatangkan perpecahan dan permusuhan
ReplyDeleteJAUHI SEGALA PERDEBATAN DAN ERSELISIHAn bagi teman teman yang ingin belajar fotoshop bisa kunjungi blog saya
ReplyDeleteDESAIN FOTOSHOP