babulilmi.com - sepanjang pengetahuan kami dari berbagai kitab "Sirah Nabawiyyah" baik yang ditulis kaum ulama salaf, maupun ulama khulafa (yang hidup di zaman dahulu dan zaman sesudahnya). tidak ada yang mengatakan bahwa junjungan kita sayyidina Muhammad Rasulullah Saw adalah manusia biasa. Sebab jika Rasulullah sama dengan kita, itu berati beliau semartabat dengan kita. ini suatu soal yang tidak dapat dibenarkan oleh akal manusia beriman. Semua sumber ajaran Islam, Khususnya Kitabullah Dan Sunnah Rasul, mengisyaratkan denga jelas bahwa sayyidina Muhammad Rasulullah Saw adalah sayyidul Basyar (manusia termulia) dan insan al-Kamil (manusia sempurna), baik dalam hal penciptaan, unsur-unsur kemanuisaan nya, maupun sifat-sifat dan perilakunya. Jika Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw seorang manusia biasa seperti kita, tentu Allah Swt tidak mengisra mi’rajkan beliau. Belum pernah dan tidak akan pernah Allah Swt mengisra mi’rajkan manusia biasa seperti kita. Jika Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw manusia biasa seperti kita, tentu Allah Swt tidak akan berfirman:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tiadalah yang diucaokannya itu (al-Quran) menurut kemauan haw nafsunya. Ucaoannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya). (QS an-Najm: 3-4)
Masih banyak ayat-ayat suci lainnya yang mengisyaratkan bahwa Rasulullah Saw adalah manusia yang kemuliaan martabatnya diatas semua manusia. Banyak pula sunnah Rasul (hadist-hadist sahih dan mu’tamad) yang dengan jelas menerangkan hal yang sama.
Memang benar bahwa Allah Swt berfirman di dalam al-Quran bahwa:
قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا
“Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (QS. al-Kahfi; 110)
Sebataspenglihatan manusia biasa, wujud dan bentuk dan bentuk jasmani Rasulullah Saw memang sama dengan Manusia biasa. Karena Rasulullah Saw diutus Allah Swt membawakan risalah Suci dan Syari’at Nya kepada ummat manusia biasa. Seandainya beliau tidak berjasmani sama dengan kita misalnya Malaikat, terntu akan sukar dimengerti oleh manusia biasa . penampilan jasmani beliau di perlukan untuk dapat berdialog dan bertatap muka menyampaikan kebenaranagama Allah. Yakni diperlukan penampilan yang dapat dimengerti, diperlukan percakapan dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia biasa. Hanya dengan demikian itulah kehadiran beliau sebagai Nabi dan Rasul utusan Allah dapat dimengerti oleh manusia biasa.
Kehadiran sayyidina Muhammad Rasulullah Saw di tengah kehidupan umat manusia biasa, merupakan salah satu syi’ar yang menandakan kekuasan Allah Swt yang mutlak dan tidak terbatas. Manusia hamba ciptaan Nya yang dikarunia martabat jauh lebih mulia dan lebih tinggi dari semua ummat manusia, dihadirkan sebagai Nabi dan Rasul Nya di tengah kehidupan manusia biasa dengan wujud jasmani yang sama dengan manusia biasa; hanya dapat terjadi atas kehendak dan kekuasaan Allah Rabbul ‘Alamin. Syi’ar yang menandakan kekuasaan Allah yang Maha Mutlak dalam hal itu ialah sayyidina Muhammad Rasulullah Saw dan kehadirannya di tengah kehidupan ummat manusiatermasuk syi’ar-syi’ar Allah yang Wajib kita agungkan. Allah Swt telah berfirman:
ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
“Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al- Haj: 32)
Takwa, atau patuh melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya adalah ciri khas orang yang benar benar beriman, tanpa takwa dan tiada takwa tanpa iman. Jelaslah orang belum dapat disebut beriman jika ia tidak mengagungkan Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw sebagai syi’ar yang menadakan kebesaran dan kekuasan Allah Swt.
Demikiah agung martabat Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw di sisi Allah Swt sehingga Allah menjanjikan Ampunan bagi orang bertobat yang dimohonkan ampunannya olehnya, Allah berfirman:
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا
"Dan Kami tidak mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang". (QS. an-Nisa: 64)
Kemudian Allah Swt melarang semua ummat beriman memanggil atau menyebut nama Nabi dan Rasul Nya Muhammad saja dengan kata panggilan atau sebutan seperti yang biasa mereka gunakan untuk memanggil atau menyebut nama sesama mereka sendiri. Mengenai hal itu Allah berfirman:
لَا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا
“Janganlah kalian memanngil (atau menyebut) Rasul dengan kata panggilan seperti (yang biasa berlaku) di antara sesama kalian.”(QS. An-Nur: 63)
Larangan tersebut bukan hanya sekedar pendidikan mengenai tatakrama dan sopan santun seperti yang biasanya di berikan orang tua kepada anak-anaknya. Lebih jauh dari itu, karena larangan tersebut dilarang dar Allah Rabbul ‘Alamin yang ditunjukkan kepada semua ummat beriman. Turunnya larangan tersebut dari Allah Swt merupakan salah satu petunjuk yang jelas, bahwa Muhammad Rasullah Saw bukan manusia biasa seperti kita, melainkan manusia yang diciptakan Allah dari unsur sangat mulia dan disertai martabat jauh lebih tinggi daripada segala martabat. Dalam memanggil atayu menyebut nama Rasulullah Saw kita dituntut sekurang-kurangnya menyebutnya dengan kalimat Nabiyullah ( ya Nabiyullah) atau “Rasulullah” (ya Rasulullah). Menjauhi larangan Allah adalah wajib karenanya menyebut Rasulullah Saw hanya dengan sebutan nama saja, “Muhammad” bukan hanya perbuatan tidak sopan, bahkan leebih dari itu, yakni durhaka kepada Allah karena melanggar larangan Allah atau mengabaikan perintah Nya. Maka dari itu orang yang berbuat seperti itu harus beristighfar dam bertaubat.
Sangat disesalkan banyak orang yang berbicara di depan umum, terutama sementara khatib shalat jum’at yang menyebut nama Nabi kita dengan namanya saja, tanpa ada penghormatan merupakan sama sekali. Selain melanggar perintah Allah, hal itu juga dapat menyakiti telinga yang mendengarnya. Bagaimana perasaan kita sebagai ummat Rasulullah Saw, bila Nabinya disebut dengan sebutan yang kurang baik, sempurna, seperti lelucon.
Bagaimana bisa bermakmum berasama orang yang melawan Allah ? padahal melangar larangan Allah berarti berbuat durhaka. Ada orang yang beranggapan menyebut nama Rasulullah Saw dengan berbagai panggilan penghormatan merupakan suatu yang berlebih-lebihan. Bahkan membicarakan sifat-sifat kemuliaan dan kebesaran beliau dianggap mendewa-dewakan atau menuhankannya. Itu adalah cara berfikir yang salah. Orang yang berakal tentu dapat membedakan kebesaran Rasulullah Saw dari kebesaran Allah sebagai al-Khaliq (Sang Pencipta). Kebesaran Rasulullah Sawe sebagai makhluk ciptaan Nya tidak dapat dibandingkan dengan kebesaran Allah yang menciptakan beliau. Kebesaran beliau hanya dapat dibandingkan dengan kebasaran makhluk yang lain, sedangkan kebsaran Allah ‘Azza Wa Jalla adalah hal yang mutlak dan tak dapat dibandingkan dengan apa pun juga.
Sumber: dikutip dari Keagungan Sayyidina Muhammad Rasulullah Saw, hal.7-11

No comments:
Post a Comment